Home Organisasi Baharuddin Hafid Menguak Gerakan Sunyi di PDIP Sulsel

Baharuddin Hafid Menguak Gerakan Sunyi di PDIP Sulsel

77
0

MNCMAKASSAR – Penunjukan Nur Aliem Qalby Alimuddin sebagai Ketua Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat (BBHAR) PDI Perjuangan Sulawesi Selatan mendapat perhatian khusus dari kalangan akademisi, Selasa (25/11/2025).

Dosen Universitas Megarezky Makassar, Baharuddin Hafid, menilai keputusan tersebut bukan sekadar rotasi struktural partai, tetapi bagian dari konfigurasi politik baru yang menandai hadirnya generasi muda dalam ruang-ruang strategis kepartaian di Sulawesi Selatan.

Dalam analisisnya, Baharuddin menekankan bahwa kemunculan figur muda seperti Nur Aliem merupakan bagian dari agenda regenerasi politik yang menjadi kebutuhan struktural bagi partai modern.

“PDIP Sulsel yang selama ini didominasi aktor senior kini mulai membuka ruang bagi kader muda untuk tampil, sebagai respons atas dinamika pemilih yang semakin didominasi generasi produktif,” ujarnya.

Menurut Baharuddin, Nur Aliem membawa modal khas kelas menengah muda, kapasitas intelektual, kemampuan digital, dan fleksibilitas komunikasi yang sangat relevan dengan tuntutan politik kontemporer.

Namun ia mengingatkan bahwa modal tersebut baru menjadi kekuatan substantif jika diikuti kemampuan membangun otoritas politik di dalam struktur partai.

“Anak muda harus mampu keluar dari jebakan simbol regenerasi. Mereka perlu membuktikan diri dengan kinerja,” tegasnya.

Sebagai Ketua BBHAR, Nur Aliem akan memimpin organ penting yang tidak hanya berfokus pada bantuan hukum, tetapi juga memainkan peran strategis dalam advokasi politik dan pemberdayaan kelompok rentan.

“BBHAR adalah instrumen ideologis PDIP. Melalui advokasi, partai membangun kedekatan emosional dengan rakyat dan memperluas basis politiknya,” jelas Baharuddin.

Ia menilai posisi ini memberi peluang besar bagi Nur Aliem untuk membuktikan kapasitas kepemimpinannya sekaligus membangun capital politik baru.

Meski demikian, penempatan kader muda di posisi strategis tidak lepas dari tantangan internal, termasuk resistensi dari kultur senioritas dan tarik-menarik kekuatan faksional.

Baharuddin menyebut ada tiga tantangan utama yang dihadapi Nur Aliem, legitimasi internal, otoritas substantif dalam menentukan agenda advokasi, serta kemampuan mengelola resistensi politik. “Ini bukan hanya amanah, tapi juga arena kontestasi,” katanya.

Jika mampu memaksimalkan perannya, Nur Aliem dinilai berpeluang menjadi salah satu figur kunci masa depan PDIP Sulsel.

Melalui advokasi rakyat, kedekatan di akar rumput, dan narasi politik progresif, ia dapat membangun kapital politik, moral, dan elektoral secara simultan.

“Penunjukan ini adalah taruhan penting bagi PDIP Sulsel. Keberhasilan Nur Aliem akan menjadi indikator keseriusan partai membuka ruang bagi pembaruan,” pungkas Baharuddin.